Rabu, 14 Januari 2009

Membangun Kesetiaan Konsumen

Ketika saya sedang menemani istri belanja di pasar, ada pelajaran menarik yang ingin saya share dengan para pembaca. Seperti diketahui, ada begitu banyak penjual sayuran dan bumbu-bumbu yang menggelar dagangan di pasar, akan tetapi istri saya dan mungkin juga ibu-ibu yang lain mempunyai langganan-langganan tertentu. Mengapa demikian pasti ada alasannya. Kalau belanja tempe ada di bakul sebelah sana, kalau belanja daging ayam ada di bakul sebelah situ, kalau belanja sayuran ada di bakul sebelah sono, kalau belanja bumbu-bumbu ada di bakul sebelah sini, dan sebagainya. Pendek kata tidak berlaku “One Stop Shopping”.


Kalau kita potret perilaku bakul di pasar dalam melayani pembeli, terlihat bervariasi sikap atau perilakunya. Ada yang cuek – terserah ada yang membeli atau tidak, ada yang marah kalau ditawar, ada yang dengan proaktif menawarkan dagangannya, dan masih banyak lagi lainnya. Ketika salah satu bakul langganan istri saya melayani brambang (bawang merah), bakul tersebut dengan sabar dan hati-hati memilihkan brambang yang besar-besar dan kondisinya baik. Padahal setahu saya, pada umumnya bakul-bakul kalau sudah kepayon (laku) cenderung untuk melayani semaunya, kadang-kadang barang dagangan jelekpun dicampur agar dagangan segera habis jadi duit. Sikap penjual brambang yang demikian itulah yang menggelitik saya untuk ingin tahu. “Bu, baru kali ini lho ada bakul yang memilihkan barang yang bagus-bagus untuk konsumennya tidak seperti bakul-bakul lainnya. Apa alasan ibu berbeda dengan bakul lain ?”. Ibu ini menjawab : “Wah….. ya memang harus begitu pak, supaya pelanggan tidak kapok, sebab sekarang ini banyak bakul, pesaingnya banyak, dan nyari kerja susah. Kalau pelanggan kapok dan pindah ke bakul lain, saya mau kerja apa lagi pak”.


Mungkin hal ini nampak sepele, tetapi kalau didalami sebetulnya begitu syarat dengan pesan kewirausahaan dan pesan moral lainnya. Menurut saya, ibu ini orang yang pandai bersyukur, dalam arti menyadari sepenuhnya bahwa sekarang ini mencari pekerjaan susah sehingga pekerjaan yang sudah ada ditangan (berjualan bumbu di pasar) dijaga dan dipelihara dengan cara memberikan layanan yang terbaik kepada konsumen. Dengan memberikan layanan yang terbaik, maka hubungan baik dengan konsumen akan terpelihara, pelanggan semakin setia (tidak kapok), dan kontinyuitas usaha terjamin karena barang dijamin laku (ada pembeli setia).


Ini adalah pelajaran berharga bagi kita yang nantinya ingin menekuni wirausaha – mandiri. Memang begitulah seharusnya bahwa konsumen adalah raja dan hubungan penjual ataupun produsen dan pembeli atau konsumen harus dibangun sebagai hubungan yang saling membutuhkan. Produsen tidak akan ada artinya tanpa kehadiran konsumen, begitu juga sebaliknya. Layanan yang baik tidak sekedar memberikan harga yang pantas dan kualitas barang yang pilihan, melainkan layanan sosial hubungan kemanusiaan juga tidak boleh diabaikan, misalnya ucapan terima kasih, senyum, keramahan, tegur sapa, dan ”pembeli diuwongke”. Mengenai hal ini, mungkin kita sendiri sering mengalaminya misalnya ketika membeli pulsa lebih senang di counter tertentu, bukan di tempat lain dengan alasan mungkin layanannya bagus, tempatnya enak, pelayannya ramah, konsultasi gratis, dan sebagainya.

0 komentar:

Poskan Komentar