Minggu, 16 Agustus 2009

Ternyata ST itu Sarjana Telo dan MSi itu Magister Singkong

Hari selasa 11 Agustus 2009 kemarin, bertempat di Grha Sabha Permana UGM baru saja diselenggarakan kegiatan Entrepreneurship Event yang ke -5.  Selain menghadirkan pembicara dari Bank Mandiri, acara tahunan Direktorat Kemahasiswaan Universitas  Gadjah Mada kali ini juga menghadirkan pembicara-pembicara hebat seperti Agung W (dari Universitas Ciputra), Firmansyah Budi Prasetyo, SH (boss Tela Krezz) , Jaya Setiabudi (penulis buku the power of kepepet dan owner Young Entrepreneur Academy = YEA) dan Sandiaga S. Uno (Wakil Ketua KADIN dan Owner Saratoga Investama). Harus saya akui bahwa masing-masing pembicara memiliki pengalaman praktek atau jam terbang yang tinggi, sehingga sangat menarik untuk diteladani. Salah satunya yang barangkali dapat memberikan inspirasi kepada kita sekalian -khususnya para mahasiswa ataupun lulusan baru adalah sosok Firmansyah Budi Prasetyo, SH yang mempunyai "gelar" tambahan ST dan MSi. Mengapa ???
Firmansyah adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada tahun 2006 dengan predikat kelulusan Cum laude,  suatu prestasi yang luar biasa tentunya. Tapi siapa sangka bahwa pada akhirnya ia lebih tertarik mengembangkan bisnis singkong daripada menjadi birokrat atau bergelut di dunia hukum . Bahkan ketertarikannya pada singkong ini mampu mengantarkannya menjadi pebisnis dengan omzet milyaran rupiah per bulan. Bagaimana mungkin ini terjadi ?.
Pada awalnya, Firmansyah ini memulai bisnisnya hanya dengan modal Rp3 juta dan sebuah gerobak yang tidak terpakai pada tahun 2007.  Dengan sistem pemasaran waralaba atau franchise, usahanya berkembang dengan pesat bahkan mampu merambah ke kota-kota di seluruh pelosok nusantara dari Aceh sampai Papua. Info terakhir disebutkan jumlah outletnya sudah menembus angka 1200 outlet di Indonesia. Itu artinya, andaikata tiap outlet setiap  harinya bisa menjual 30 bungkus  saja dengan harga Rp 3.000 per bungkus, maka omzet penjualan per harinya mencapai Rp. 90.000 atau sekitar 2,7 juta/bulan/outlet. Dengan 1200 outlet tersebut berarti omzet penjualannya mencapai lebih dari 3,2 Milyard per bulan. Oleh karenanya tidaklah heran apabila  Firmansyah mendapat penghargaan sebagai salah satu finalis Wira Usaha Mandiri 2008 sebuah ajang penghargaan untuk Wirausahawan Muda yang diadakan oleh Bank Mandiri.
Salah satu yang menarik perhatian saya dan menurut penuturan langsung kepada saya adalah bahwa meskipun ia "menyeberang" dari dunia hukum ke dunia bisnis pangan, ternyata banyak pengalaman selama kuliah ataupun pengalaman  menjadi mahasiswa yang bermanfaat untuk mengembangkan bisnisnya, antara lain pengalamannya sebagai pengurus BEM, kemampuan negosiasi, kemampuan berorganisasi, dan kemampuan berkomunikasi. Dengan kata lain meskipun Firmansyah ini berlatarbelakang pendidikan dalam bidang hukum, tetapi jiwa , roh atau semangat entrepreneurship-nya diasah sejak dini selama menjadi mahasiswa sehingga terasah semakin tajam ketika ia harus menentukan pilihan hidupnya mau jadi apa. Semangat tersebut nyata-nyata sangat berguna ketika ia menentukan pilihan hidupnya sebagai seorang pebisnis di bidang pangan.
Ya... menjadi apapun adalah pilihan hidup kita. Seorang mahasiswa yang sudah menentukan pilihan hidupnya dengan memilih Fakultas ataupun Jurusan tertentu, menurut hemat saya mahasiswa tsb sudah menentukan pilihan hidup atau masa depannya. Dan seharusnyalah ia bertanggungjawab terhadap pilihannya itu dengan menjalankan sebaik-baiknya kewajiban atau konsekuensi-konsekuensinya. Oleh karenanya, ketika mahasiswa tersebut setelah lulus dan ternyata tidak berkiprah sesuai kompetensinya, saya merasa ada yg "gagal" dalam hal ini. Bisa jadi yang gagal adalah mahasiswanya, tetapi bisa jadi yang gagal adalah dosen, institusi, atau kurikulumnya.
Kalau saja iklim ketenagakerjaan di Indonesia sangat kondusif sehingga cari kerjaan mudah, mungkin banyak orang yang bekerja sesuai kompetensinya. Tetapi faktanya sangatlah berlawanan dan hal ini sudah berlangsung cukup lama. Susahnya orang cari kerjaan inilah yang mendorong orang untuk bersikap realistis, kreatif dan innovatif agar mampu survive.  Dan ternyata tidak banyak orang yang mampu membaca keadaan dan berani mengambil sikap serta menentukan pilihan hidupnya untuk berani menyeberang dari dunia yang digelutinya selama ini.
Berdasarkan kesesuaian antara latar belakang pendidikan atau kompetensi dengan bidang kerja, untuk mudahnya saya mengelompokkannya menjadi tiga kategori, yaitu kategori Ring 1 , Ring 2 dan Ring 3. Seseorang yang masuk dalam kategori Ring 1 adalah orang yang sangat sesuai antara latar belakang pendidikan atau kompetensinya dengan bidang kerjanya, misalnya lulusan dari jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian bekerja di perusahaan atau instansi yang berhubungan bidang pangan atau hasil pertanian. Selanjutnya yang termasuk kategori Ring 2 adalah orang yang bidang kerjanya kurang sesuai atau nyerempet-nyerempet dengan latar belakang pendidikan atau kompetensinya. Dan yang terakhir adalah kategori Ring 3 atau orang yang bidang kerjanya sama sekali tidak berhubungan dengan latar belakang pendidikan atau kompetensinya. Menurut saya, Firmansyah boss Tella Krezz ini termasuk kategori Ring 3 ini. Tetapi mengapa ia bisa sukses, itulah pertanyaan yang menarik dikaji.
Menurut saya, sepertinya kesesuaian antara kompetensi dengan bidang kerja dan kesuksesan adalah dua hal yg sangat berbeda sudut pandangnya dan tidak bisa dibandingkan atau dijadikan ukuran. Orang yang termasuk dalam kategori Ring 1 sudah pasti merasa puas karena apa yang dijalaninya saat ini sesuai dengan pilihan hidupnya, meskipun belum tentu sukses secara materiil atau financial. Sebaliknya orang yang termasuk dalam kategori Ring 3, meskipun tidak sesuai dengan kompetensi atau latar belakang pendidikannya, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang sangat cocok dengan pilihan hidupnya yang baru. Mungkin pilihan sebelumnya dinilai kurang cocok dan sudah menemukan pilihan hidupnya yang baru dan jauh lebih sesuai dengan dirinya saat ini. Kesesuaian inilah yang menimbulkan kecintaan atau semangat yang luar biasa sehingga mendorong dirinya untuk rela bekerja keras memperjuangan pilihan hidupnya yang baru. Rasa kecintaan atau  semangat luar biasa inilah yang disebut passion dan merupakan kunci utama kesuksesan dalam bisnis atau dalam mewujudkan suatu cita-cita atau harapan. Orang yang sudah menemukan passion dalam dirinya sudah pasti akan dengan rela hati dan penuh kesadaran untuk berjuang mewujudkan harapannya, tidak putus asa, pantang menyerah, mau belajar hal-hal baru, dan mau bekerja keras, meskipun harus bersusah payah. Passion itulah yang sesungguhnya dimiliki Firmansyah sehingga ia rela hati bekerja keras dan meraih sukses saat ini.
Saya yakin, di kategori manapun kita berada, apakah masuk dalam kategori Ring 1, Ring 2, ataupun Ring 3, seandainya kita mempunyai passion atau rasa kecintaan atau semangat yang luar biasa terhadap pilihan hidup kita, pasti akan mampu meraih sukses. Jadi, kepada adik-adik mahasiswa ataupun lulusan baru khususnya, jangan takut untuk berada di Ring 2 atau bahkan Ring 3, karena yang dipentingkan adalah passion yang harus kita ciptakan atau kita motivasi diri kita sendiri. Akhirnya saya harus realistis, meskipun saya berharap banyak bahwa mahasiswa-mahasiswa saya nantinya akan berhasil di Ring 1, akan tetapi kalau pada kenyataannya harus berada di Ring 2 ataupun di Ring 3, maka pesen saya "jangan lupakan passion ". OK.... selamat berjuang dengan masing-masing pilihan hidup kita. Good Luck !!!.

10 komentar:

  1. [...] the whole article on : Ternyata ST itu Sarjana Telo dan MSi itu Magister Singkong Related topics : bidang kerja, firmansyah budi prasetyo, kewirausahaan, kompetensi, nguda rasa, [...]

    BalasHapus
  2. Kita patut ajungin jempol !!!... untuk anak-anak muda yang kreative dan berani mengambil pilihan untuk berwirasa-usaha, diluat mainstream untuk menjadi birokrat atu karyawan perusah besar.
    Salam Hangat
    C.U

    BalasHapus
  3. luar biasa artikel anda sangat menginspirasi saya keep bloging dan ini cooment saya ke 14

    BalasHapus
  4. @agoesman120 : agar makin sejahtera dan gak ada lagi pengangguran di negeri ini, negara kita butuh banyak generasi muda yg kreativ , realistis dan mau menciptakan kerja. BUKAN PENCARI KERJA.... Makasih mas agoes & salam...

    @30harimenujusukses : makasih mas... semoga artikel ini mampu menggugah generasi muda kita dari mimpi dan bermalas-malasan... untuk ikut berpartisipasi mensejahterakan negeri yg sesungguhnya kaya raya ini... Merdeka !!! (mumpung agustusan mas... he3....)

    BalasHapus
  5. yg bner ni, MSi sgktn sarjana apa?

    BalasHapus
  6. hahaha... iyu Joke nya pengusaha Tella Krezzz mas... Dia bisnis Singkong goreng sebenarnya, tapi dimodifikasi. Kebetulan dia berlatarbelakang Sarjana Hukum. Karena dia bisnis Singkong alias Telo, maka dia bikin gelar sendiri, yaitu ST =Sarjana Telo dan MSi = Magister`Singkong. Begitu mas ceritanya...

    BalasHapus
  7. Wirausaha adalah sebuah pendakian! Pengarungan Alam liar! Bertahan Untuk Menang! Mundur untuk Maju! Kalah untuk Mengalahkan!

    BalasHapus
  8. Salam Hormat, Bos.

    Bagaimana caranya saya kisa buka usaha "Telo Krezz", ?
    Apa sudah ada yang buka untuk daerah Semarang dan sekitarnya ?
    Tanks sebelumnya.

    BalasHapus
  9. Salam Hormat, Bozz.
    Bagaimana caranya saya bisa buka usaha "Telo Krezz" , ?
    Apa sudah ada yang buka usaha ini untuk wilayah Semarang dan sekitarnya ?
    Tanks

    BalasHapus
  10. luar biasa pak,saya salut sama anda,di saat orang2 indonesia mulai menyukai makanan2 luar,anda membuat suatu terobosan yg sangat luar biasa suatu product makanan yg tidak kalah bersaing dengan product makanan dari luar,walaupun bahan dasarnya dari singkong anda saanggup merubahnya menjadi makanan yg menarik,dan mengangkat nilai darisingkong tersebut...........maju terus pak

    BalasHapus